Senin, 08 Juni 2009

UPACARA

PERSEMBAHAN DAN PEMUJAAN KEHADAPAN PARA DEWA BERDASARKAN PERHITUNGAN SASIH.

Persembahan dan pemujaan kehadapan para dewa berdasarkan sasih di antaranya sebagai berikut:

1. Hari Purnama dan Tilem.
Sasih menurut perhitungan agama Hindu “Wariga ada 12 banyaknya, antara lain: Kasa, Karo,Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kadasa, Jyestha, dan Sada. Setiap sasih terjadi setiap satu kali purnama dan satu kali tilem. Pada umumnya setiap sasih memiliki jumlah hari sebanyak tiga puluh hari sehari setelah purnama disebut panglong, dan sehari setelah tilem disebut penanggal.
Hari purnama merupakan hari beryoganya Sang Hyang Candra atau Bulan. Pada saat itu umat hendaknya mengadakan persembahan dan pemujaan kehadapan Sang Hyang Candra, guna memohon panugrahan keselamatan, kesucian lahir batin dan kesjukan pikiram, kata-kata serta perilaku. Persembahyangan hendaknya dilakukan di tempat-tempat suci oleh umat sedharma dengan terlebih dahulu menghaturkan canang.
Sedangkan pada hari Tilem merupakan beryoganya Sang Hyang Baskara (Batara Surya). Pada saat ini umat patut melaksanakan persembahyangan dan pemujaan yang di tunjukan kehadapan Sang Hyang Baskar, guna memohon anugerah keselmatan, penerangan, lahir batin dan ketajaman pikiran. Dengan demikian maka hidup kita ini akan menjadi penuh semangan dalam mewujudkan kebahagiaan dan kesejahtraan dalam hibup.
Pada hari raya Purnama dan Tilem selain melaksanakan persembahyanganjuga merupakan hari yang angat baik bagi umat sedharma untuk melakukan yoga, tapa dan brata.

2. Hari siwaratri.
Hari siwaratri dirayakan setiap setahun sekali, yaitu pada hari Purwaning Tilem Sasih Kapitu. Hari Siwaratri merupakan beryoganya Batara Siwa. Umat Hindu hendaknya mengadakan persembahyangan dan pemujaan atau persembahyangan ehadapa Batara Siwa untuk memohon keselamatan, kesucian lahir dan batin serta terbebasnya pikiran kiti dari kegelapan. Pemujaan hendaknya dilakukan di tempat-tempat suci seperti pura,sanggah atau merajan. Selain mengadakan persembahyangan, pada hari ini sangat baik bagi umat untuk melakukan tapa, brata, yoga dan Samadhi, guna memohon pengampunan atas dosayang dilakukan.

3. Hari Nyepi.
Hari Nyepi (Tahun Baru Caka) dilaksanakan setiap tahun sekali,yaitu pada penanggal apisan(pertama) sasih kadasa. Sehari sebelum hari raya nyepi di leksanakan upacara Pengrupukan dan Tawur Agung pada setiap catur peta (perempatan) desa/wilayah. Sebelum upacara catur dilaksanakan upacara makiis ke segara (laut) atau sumber mata air,dengan tujuan untuk menyucikan pralingga Ida Batara yang disungsung oleh umat.
Pada hari umat sedharma melaksanaka persembahyangan di tempat suci masing-masing, memuja kebesaran Tuhan Hyang Maha Esa/Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya yang telah menciptakan, memelihara, dan menetralisir alam semestabeserta isinya. Disamping itu umat sangat baik jika melaksanakan bratha, upawasa, monabratha, amati: lelungan, lelanguan, karya dan amati geni. Dengan demikian terciptalah kesucian dan keheningan pada masing-masing pribadinya. Brata berate mengenang kekosongan.

Disamping itu ada juga persembahan dan pemujaan yang dilakukan saat ada kejadian tertentu antara lain:

1. Saat Terjadi Gerhana.
Gerhana matahari dan bulan terjadi adalah merupakan saat Sang Hyang Baskara dan Sang Hyang Candra sedang melakukan pemujaan dan persembahan dengan ditunjukan kehadapan Sang Hyang Baskara dan Sang Hyang Candra. Tujuannya adalah untuk memohon keselamatan alam semesta beserta isinya. Disamping itu umat sedharma hendaknya melaksanakan yoga dan Samadhi memohon kesucian lahir dan batin.

2.upacara Mantenin
Setelah dilaksanakan panen “umat Petani” hasil panennya berupa padi biasanya disimpan pada sebuah lumbung (tempat penyimpanan padi) oleh petani. Selanjutnya dilakukan upacara yang disebut “mantenin” Pelaksanaan upacara ini ditunjukan kepada Dewi Sri, dengan tujuan menyampaikan rasa syukur dan terimakasi atas keberhasilannya sebagai petani. Umat melakukan persembahyangan kehadapan Dewi Sri yang juga disebut sakti dari Dewa Wisnu, memohon agar bliau senantiasa memberkahi keberhasilannya dan hemat dalam penggunaannya sehari-hari.

3. Upacara Mendirikan Tempat Suci.
Upacara ini dilaksanakan oleh umat yang akan mendirikan tempat suci sebagai istana Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya. Didahului dengan upacara mapiuning kehadapanya, mohon petunjuk agar bliau berkenan memberikan tutuntunan kepada umadnya. Biasanya tempap suci didirikan pada arah hulu dan pada tanah yang berbau harum. Dalam upacara ini dipimpin oleh orang suci. Dilanjutkan dengan melaksanakan persembahyangan bersama dan setelah itu memasang (mulang) dasar.

SUMBER:

BUKU PEDOMAN BELAJAR
PENDIDIKAN AGAMA HNDU
GENITRI

DI SUSUN OLEH: DRS. I GEDE SUPARTA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar